Oleh : Muhammad Nashir Syam
Sekalipun para pengamat geopolitik mengatakan bahwa perang Iran versus Israel Amerika tidak ada hubungannya dengan masalah agama, akan tetapi tidak bisa dipungkiri kedua belah pihak tetap menjadikan simbol-simbol agama sebagai basis kekuatan mereka dalam menegakkan “kebenaran” sesuai dengan versi mereka masing-masing.
Iran menghadapi Israel dengan semangat jihad fi sabilillah “spirit Karbala” kematian di medan tempur melawan Israel adalah sebuah cita-cita luhur para pejuang untuk mendapatkan derajat “syuhada: be a good moslem or die as a fighter”. Sementara di pihak Israel perang melawan Iran adalah titik awal terwujudnya konsep Israel Raya (Eretz Yisrael) pada tanah-tanah yang dijanjikan Tuhan, yang meliputi Israel modern, Palestina, Yordania, Lebanon dan Suriah.
Dalam tradisi keyakinan Israel, mereka adalah sebuah komunitas yang Tuhan janjikan perlindungan terhadapnya. Misalnya :
Mazmur 121: 4-5 : “Sesungguhnya, tidak akan tertidur dan tidak akan terlelap Penjaga Israel. Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di tangan kananmu.”
Ulangan 7:6 “Sebab engkau adalah umat yang kudus bagi Tuhan, Allah-Mu; engkaulah yang dipilih Tuhan, Allahmu untuk menjadi umat kesayangan-Nya di antara semua bangsa di atas muka bumi.”
Yesaya 41 : 10 “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang sebab Aku adalah Allah-mu, Aku akan menegakkan engkau, bahkan Aku akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.”
Dari nukilan ayat-ayat tersebut bangsa Israel sampai kapanpun meyakini bahwa mereka adalah bangsa pilihan, dipilih oleh Tuhan untuk menguasai dan memimpin dunia ini. Karena mereka adalah kesayangan dan pilihan Tuhan.
Lebih dari itu, bangsa Israel meyakini bahwa misi mereka adalah mewujudkan janji Tuhan terwujudnya Israel Raya dan memberikan tanah-tanah yang dijanjikan Tuhan kepada bangsa Israel :
Kejadian 15 : 18-21 “Tuhan berjanji kepada Abraham bahwa keturunannya akan memiliki tanah dari sungai Mesir sampai sungai Eufrat.”
Keluaran 23: 31 “Tuhan menetapkan batas-batas tanah yang dijanjikan kepada Israel.”
Ulangan 1 : 7-8 “Tuhan memerintahkan Israel untuk memasuki tanah yang dijanjikan.”
Berbanding terbalik dengan doktrin Islam, bagaimana Allah SWT memberikan statmen tentang keturunan Israel, seperti yang termaktub dalam QS. Al-Isra’ ayat 4-5 “
“Dan Kami tetapkan kepada Bani Israil dalam kitab (Taurat) itu, sesungguhnya kamu pasti akan membuat kerusakan di bumi (Palestina) dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar. Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang perkasa dan amat ganas serangannya lalu mereka merajalela di kampung-kampung (membunuh dan membinasakan kamu) . itulah janji yang pasti terlaksana.”
Al-Qur’an juga menjelaskan dengan gamblang beberapa karakter Bani Israil :
1. Keras kepala dan pembangkang, hati mereka lebih keras dari batu (QS. Al-Baqarah : 74).
2. Suka berbuat kerusakan daan kekacauan di muka bumi (QS. Al-Maidah : 64).
3. Suka mengubah dan menyembunyikan kebenaran, khususnya tokoh agama mereka yang sering mengubah perkataan, memutarbalikkan fakta atau menyembunyikan ayat-ayat Allah untuk kepentingan pribadi atau kelompok (QS. Al-Baqatah : 59 dan 75).
4. Berani membunuh nabi-nabi yang diutus kepada mereka tanpa alasan yang benar (QS. Al-Baqarah : 61 dan Ali Imran : 112).
5. Suka mengingkari janji, mereka dikenal sering mengingari janji yang telah mereka perbuat, baik dalam hal beriman maupun perilaku sosial (QS. Al-Baqarah : 83 dan 100).
6. Paling memusuhi umat Islam (QS. Al-Maidah : 82).
Demikian pula pada beberapa teks hadits banyak disebutkan karakteristik kaum Yahudi-Israil, yang hampir semuanya negatif.
Tekstual dan Kontekstual
Konflik antar-agama lebih banyak dipicu oleh interpretasi penganut agama, yang memahami “ayat-ayat suci” (dengan tanda kutip ya…) secara tekstual. Atau dipahami sesuai dengan kebutuhan, kemauan dan kepentingan penganutnya. Inilah pemicu utama, mengapa konflik antar-negara selalu membawa-bawa agama dan menjadikan alasan pembenaran bagi masing-masing untuk saling menyerang dan dianggap “tidak ada yang salah” dengan apa yang mereka lakukan, karena ingin menjalankan “misi Tuhan”. Tapi benarkah sedemikian kejam misi Tuhan itu ? Mengapa agama yang seharusnya menjadikan para penganutnya bahagia dan sejahtera justeru saling membinasakan ?
Bila ditelaah mendalam, “kasih sayang” Tuhan kepada Israel itu, lebih ditujukan kepada Israel (gelar Nabi Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim), seorang rasul Allah yang dihormati oleh umat Yahudi, Nasrani dan Islam. Akan halnya dengan “Bani Israil atau Israel” adalah dua hal yang berbeda, Bani Israil adalah keturunan dari Ya’qub. Apalagi Israel zaman sekarang, ia adalah nama dari sebuah negara yang diproklamirkan pada tahun 1948 oleh imperalis Inggris dihadiahkan kepada diaspora Israel yang tersebar di banyak negara di Eropa. Jadi, bukan ayat sucinya yang salah tapi penganutnya yang dibutakan oleh interpretasi yang keliru.
Mengklaim bangsa yang paling disayang Tuhan, merasa dirinya umat yang paling baik, dan merasa paling mulia di permukaan bumi ini adalah pemahaman yang amat keliru dan tidak relevan pada konteks zaman sekarang. Karena “Israel” yang dimaksud dalam teks kitab suci itu sejatinya adalah Ya’qub alaihissalam, bukan Israel sebagaimana nama negara, zaman sekarang.
Demikian pula dalam komunitas muslim : penganut fanatic-tekstualis-fundamentalis pun tidak sedikit. Menjadikan teks-teks ayat suci dan pernyataan Nabi (hadits) sebagai alat legitimasi untuk melawan Yahudi (Israel). Karakteristik negatif Bani Israil sebagaimana yang digambarkan dalam Al-Qur’an dijadikan dasar untuk membangun stigma seakan-akan Yahudi itu total salah, dan wajib untuk dihadapi, diwaspadai, dilawan bahkan dimusnahkan.
Padahal merujuk pada perjalanan Tarikh Islam, betapa Nabi Muhammad SAW memberikan perlindungan kepada Bangsa Yahudi, seperti lahirnya “Piagam Madinah” yang sering dijadikan sebagai piagam kesetaraan kemanusiaan. Lalu apanya yang salah dari teks-teks kitab suci itu ? Yang salah adalah menginterpretasikannya, sesuai dengan konteks zaman sekarang.
Alhasil, Penulis tidak sampai pada kesimpulan bahwa ayat-ayat suci itu sudah tidak relevan lagi. Tetapi mengajak kepada kita semua, untuk memahami teks-teks suci itu lebih bermakna untuk konteks zaman sekarang, bukan tekstual tapi kontekstual.
Amanat Tuhan untuk menjadikan agama sebagai instrument harmoni semesta, menjadi misi besar kita semua. Kedangkalan memahami teks-teks ayat suci secara tektual, fanatisme berlebihan dan egoism kelompok/komunitas dan kepentingan penguasaan sumber daya alam (minyak, misalnya) bisa menjadikan “seolah-olah” amanat Tuhan dalam kitab suci sebagai dasar legitimasi saling memusnahkan. Terus, sampai kapan kita seperti ini ?
Wallahu a’lam.
* Penulis adalah anggota FKUB Ketapang







Discussion about this post