Penulis: Patmawati
(Doktor Ahli Sejarah Islam IAIN Pontianak)
Rutinitas saya setiap sore adalah menjemput anak-anak yang berlatih bulu tangkis di salah satu klub di Kota Pontianak. Atlet mereka kebanyakan beretnis Tionghoa, dan pemilik klub tersebut memang beretnis Tionghoa juga. Pada saat penjemputan, terjadi pertemuan antarorang tua. Intensitas pertemuan dan rasa senasib saat menunggu anak memunculkan komunikasi di antara kami yang akhirnya berkembang menjadi persahabatan, apalagi disokong oleh anak-anak yang juga bersahabat satu sama lain.
Memasuki Imlek sebagai tahun baru bagi mereka yang beretnis Tionghoa, kami yang beretnis Melayu sudah pasti mendapatkan kiriman kue keranjang sebagai ciri khas kuliner Imlek. Anak-anak kami sudah mulai mendata teman-teman mereka yang akan berkunjung ke rumah pelatih sekaligus menunggu angpau darinya. Dari rumah pelatih, perjalanan baru dilanjutkan ke rumah teman-teman mereka yang merayakan Imlek.

Imlek tahun ini, yang sangat berdekatan dengan bulan puasa, membuat ibu-ibu sudah mulai bertanya tentang buka puasa bersama. Kami di klub bulu tangkis memiliki kebiasaan makan bersama, serta uji tanding (sparing) ke klub-klub bulu tangkis yang berada di luar Kota Pontianak. Selanjutnya, klub bulu tangkis yang sudah kami kunjungi akan membalas kunjungan kami. Sepulang dari uji tanding, kami liburan bersama dengan mengunjungi daerah wisata. Bahkan, Tahun Baru pun kami rayakan sama-sama dengan makan saprahan.
Ada beberapa pembelajaran dari makan saprahan tersebut, yakni semangat gotong royong yang terjalin antara para orang tua dan anak-anak mereka. Pelaksanaan makan saprahan dimulai dengan perbincangan mengenai alas yang akan kami gunakan. Akhirnya, disepakati untuk menggunakan daun pisang. Orang tua yang mempunyai kebun pisang menyanggupi untuk membawa pelepah pisang sebagai alas makan. Setelah itu, barulah kami membagi tugas siapa yang membawa nasi, lauk, kue, dan buah.
Acara malam Tahun Baru dengan makan saprahan berlangsung meriah diikuti oleh anak-anak dan orang tua. Terjalin persahabatan dan persaudaraan walaupun berbeda etnis dan agama. Anak-anak tidak mendapatkan teori moderasi beragama, namun mereka mendapatkan pembelajaran melalui suri teladan (role model) yang diperlihatkan orang tua mereka dalam makan saprahan tersebut.
Pembelajaran berikutnya melalui makan saprahan adalah terjalinnya komunikasi yang saling menghargai, menghormati batasan masing-masing, serta membangun interaksi positif yang mempererat silaturahmi tanpa menimbulkan beban satu sama lain. Insyaallah, buka puasa bersama juga akan dilakukan secara saprahan.







Discussion about this post