PONTIANAK – Momentum hari raya Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban sejatinya bukan sekadar ritual keagamaan tahunan, melainkan sarana fundamental untuk menumbuhkan empati, menekan egoisme, dan merawat harmoni sosial di tengah kemajemukan masyarakat.
Pesan mendalam ini ditekankan oleh Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kalimantan Barat, Prof. Dr. Ibrahim, MA., saat menjadi narasumber utama dalam siaran langsung “Dialog Publik” di TVRI Kalimantan Barat, Senin (25/5/2026). Dalam program yang dipandu oleh host Husnul dengan tajuk “Qurban, Empati, dan Harmoni Sosial” tersebut, esensi kurban dikupas tuntas dari kacamata kerukunan dan kemanusiaan.
Prof. Ibrahim memaparkan bahwa secara syariat, kurban memang diperintahkan bagi umat Islam yang memiliki kelapangan rezeki. Namun, di balik ibadah tersebut terdapat filosofi keikhlasan, ketakwaan, dan rasa syukur yang diwujudkan dalam tindakan nyata berbagi kepada sesama.
“Kurban menyadarkan kita akan realitas kehidupan sosial. Manusia tidak bisa hidup sendiri, yang kaya membutuhkan yang miskin, dan sebaliknya. Ini melahirkan kesadaran bahwa perbedaan di antara kitalah yang justru menciptakan keserasian dan harmoni,” jelasnya.
Lebih lanjut, tokoh akademisi ini menegaskan bahwa nilai kepedulian dalam kurban mampu melintasi batas-batas identitas sosial dan agama. Islam sangat terbuka dan tidak melarang pembagian daging kurban kepada umat beragama lain.
“Di situlah hakikat berbagi yang melintasi batasan agama dan budaya. Kita bisa saling berbagi kebahagiaan. Bahkan saat ini, banyak kepala daerah non-muslim yang turut menyumbang hewan kurban. Islam tidak membatasi kebaikan hanya untuk sesama muslim, karena manusia terbaik adalah yang paling banyak memberikan kemaslahatan bagi orang lain,” tegas Prof. Ibrahim.
Dalam dialog tersebut, turut disoroti mengenai tantangan pemerataan distribusi daging kurban. Idealnya, penyaluran kurban harus mampu menjangkau kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan hingga ke wilayah pedalaman dan pelosok daerah, bukan hanya terkonsentrasi pada warga yang tergolong mampu di kawasan perkotaan. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bersama bagi para penyelenggara kurban ke depannya.
Prof. Ibrahim juga menitipkan pesan khusus bagi generasi muda, khususnya generasi milenial dan alpha. Ia mengimbau agar para pemuda tidak terjebak dalam arus individualisme dan ketergantungan pasif pada media sosial.
“Jangan sampai menjadi generasi yang ‘sendiri dalam keramaian’ atau terjajah oleh teknologi. Terlibatlah langsung dalam kepanitiaan kurban. Rasakan kebahagiaannya saat turun membagikan daging kepada warga yang membutuhkan. Kelola media sosial untuk menebar kebaikan, edukasi, dan mempererat kohesi sosial, bukan malah memecah belah,” imbaunya.
Menutup perbincangan, Ketua FKUB Kalbar ini mengingatkan bahwa hakikat menyembelih hewan kurban adalah menyembelih sifat kesombongan dan egoisme di dalam diri manusia. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan momentum Idul Adha sebagai pelecut semangat membangun kedamaian dan harmonisasi di tengah keberagaman Kalimantan Barat.







Discussion about this post