• Beranda
  • Tentang Kami
    • Sejarah SIngkat
    • Visi Misi
    • Urgensi FKUB
    • Dasar Hukum
    • Tujuan dan Strategi
    • Program Kerja
    • Struktur Organisasi
  • Berita
    • Nasional
    • Daerah
      • Kabupaten Bengkayang
      • Kabupaten Kapuas Hulu
      • Kabupaten Kayong Utara
      • Kabupaten Ketapang
      • Kabupaten Kubu Raya
      • Kabupaten Landak
      • Kabupaten Melawi
      • Kabupaten Mempawah
      • Kabupaten Sambas
      • Kabupaten Sanggau
      • Kabupaten Sekadau
      • Kabupaten Sintang
      • Kota Pontianak
      • Kota SIngkawang
  • Mimbar Rohani
    • Islam
    • Kristen
    • Katholik
    • Hindu
    • Buddha
    • Konghuchu
  • Budaya
  • Opini
  • Galeri
    • Foto
    • Video
Sabtu, Februari 7, 2026
Forum Kerukunan Umat Beragama Kalimantan Barat
Advertisement Banner
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Sejarah SIngkat
    • Visi Misi
    • Urgensi FKUB
    • Dasar Hukum
    • Tujuan dan Strategi
    • Program Kerja
    • Struktur Organisasi
  • Berita
    • Nasional
    • Daerah
      • Kabupaten Bengkayang
      • Kabupaten Kapuas Hulu
      • Kabupaten Kayong Utara
      • Kabupaten Ketapang
      • Kabupaten Kubu Raya
      • Kabupaten Landak
      • Kabupaten Melawi
      • Kabupaten Mempawah
      • Kabupaten Sambas
      • Kabupaten Sanggau
      • Kabupaten Sekadau
      • Kabupaten Sintang
      • Kota Pontianak
      • Kota SIngkawang
  • Mimbar Rohani
    • Islam
    • Kristen
    • Katholik
    • Hindu
    • Buddha
    • Konghuchu
  • Budaya
  • Opini
  • Galeri
    • Foto
    • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Sejarah SIngkat
    • Visi Misi
    • Urgensi FKUB
    • Dasar Hukum
    • Tujuan dan Strategi
    • Program Kerja
    • Struktur Organisasi
  • Berita
    • Nasional
    • Daerah
      • Kabupaten Bengkayang
      • Kabupaten Kapuas Hulu
      • Kabupaten Kayong Utara
      • Kabupaten Ketapang
      • Kabupaten Kubu Raya
      • Kabupaten Landak
      • Kabupaten Melawi
      • Kabupaten Mempawah
      • Kabupaten Sambas
      • Kabupaten Sanggau
      • Kabupaten Sekadau
      • Kabupaten Sintang
      • Kota Pontianak
      • Kota SIngkawang
  • Mimbar Rohani
    • Islam
    • Kristen
    • Katholik
    • Hindu
    • Buddha
    • Konghuchu
  • Budaya
  • Opini
  • Galeri
    • Foto
    • Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Opini

Cinta Alam sebagai Ibadah ; Perspektif Ekoteologi dalam Ajaran Islam

admin by admin
Agustus 22, 2025
in Opini
0
Cinta Alam sebagai Ibadah ; Perspektif Ekoteologi dalam Ajaran Islam
0
SHARES
155
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : M. Nashir Syam, M.Pd.I

 

Di tengah meningkatnya kerusakan lingkungan global, mulai dari pencemaran, perubahan iklim, deforestasi, hingga bencana ekologi, umat manusia dihadapkan pada kenyataan pahit: bumi sebagai rumah bersama tengah sakit parah. Krisis ini bukan lagi isu global yang jauh dari keseharian, melainkan nyata dan terjadi di sekitar kita.

Salah satu contohnya terlihat di Kalimantan Barat, di mana tekanan terhadap lingkungan hidup kian meningkat. Menurut laporan Koalisi Masyarakat Sipil (Satya Bumi, WALHI Kalbar, dan Link-AR Borneo), lebih dari 4.600 hektare hutan hilang akibat pembukaan lahan oleh PT Mayawana Persada, terutama di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara. Bahkan kawasan gambut lindung dan habitat orangutan ikut tergerus.

Dampaknya pun nyata dan menyakitkan. Pada Desember 2024, banjir besar melanda Desa Kualan Hilir di Kecamatan Simpang Hulu. Dusun-dusun seperti Sabar Bubu dan Lelayang terendam air, merusak rumah, jalan desa, ladang padi, dan kebun sayur milik warga. Anak-anak tak bisa bersekolah, warga kehilangan mata pencaharian, dan sebagian terpaksa meninggalkan desa untuk menjadi buruh di tempat lain. Media lokal seperti ruai.tv dan laporan investigasi Satya Bumi menyebut bencana ini sebagai akibat langsung dari deforestasi besar-besaran oleh industri.

Dalam konteks ini, ajaran Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam) seharusnya tampil bukan hanya sebagai inspirasi moral, tapi juga sebagai panduan konkret dalam mencintai dan merawat alam. Mencintai bumi bukan sekadar kepedulian sosial, melainkan bentuk ibadah kepada Sang Pencipta, karena merusak alam sama dengan mengkhianati amanah-Nya.

Inilah dasar dari pendekatan ekoteologi, yaitu upaya memahami relasi manusia dengan lingkungan hidup melalui kacamata teologi atau keimanan. Dalam Islam, ekoteologi menekankan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya kewajiban moral atau sosial, tetapi bagian dari penghambaan kepada Allah SWT. Alam bukan sekadar objek yang boleh dieksploitasi, melainkan ciptaan Allah yang memiliki hak untuk dijaga, dihormati, dan dilestarikan.

Kerusakan lingkungan yang terus terjadi sejatinya mencerminkan kegagalan manusia dalam menjalankan perannya sebagai khalifah di bumi. Ketika hutan dibabat habis, sungai tercemar, dan tanah tak lagi mampu menyerap air, itu bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga krisis spiritual: manusia melupakan perjanjian sucinya dengan Sang Khalik. Padahal, dalam pandangan Islam, relasi manusia dengan alam bukanlah relasi eksploitatif, melainkan amanah ilahiah yang menuntut tanggung jawab, cinta, dan pemeliharaan. Inilah yang menjadi dasar dari ekoteologi Islam, bahwa menjaga lingkungan bukan semata tugas sosial, tetapi bagian dari ibadah kepada Allah.

 

Islam tidak menempatkan manusia sebagai makhluk bebas yang bisa mengeksploitasi bumi sesukanya. Al-Qur’an dengan tegas menyebut manusia sebagai khalifah di bumi, yakni wakil Allah yang diamanahkan untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian ciptaan-Nya. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 30, Allah berfirman, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’” Amanah sebagai khalifah ini tidak hanya berlaku dalam urusan sosial dan politik, tetapi juga dalam relasi manusia dengan alam.

Cinta terhadap alam dalam Islam bukan konsep asing. Sebaliknya, ia melekat kuat dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan praktik hidup Rasulullah SAW. Al-Qur’an memuat banyak ayat tentang langit, bumi, air, angin, tumbuhan, dan hewan sebagai tanda-tanda kebesaran Allah. Semua itu disebut sebagai ayat dalam bentuk fisik yang mengajak manusia berpikir, merenung, dan bersyukur. Dalam Surah Ali Imran ayat 190 disebutkan, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”

Rasulullah SAW memberikan teladan luar biasa dalam hal ini. Beliau dikenal sangat hemat dalam menggunakan air, bahkan saat berwudhu, meski berada di sungai yang mengalir. Beliau juga menganjurkan penanaman pohon, dan bahkan jika hari kiamat sudah dekat sementara di tangan kita ada benih, maka tetap dianjurkan untuk menanamnya. Ini menunjukkan bahwa tindakan kecil yang berkaitan dengan kelestarian alam memiliki makna spiritual yang besar dalam Islam.

Sebagai guru salah satu MAN di Ketapang, Kalimantan Barat, saya melihat pentingnya menanamkan kesadaran ekoteologis ini sejak dini kepada peserta didik. Tidak cukup hanya menyampaikan ayat dan hadits yang relevan, tetapi harus diikuti dengan aksi nyata yang terintegrasi dalam pembelajaran.

Salah satu bentuk implementasi konkret yang kami lakukan adalah proyek jurnal akhlak cinta lingkungan. Proyek ini muncul sebagai respons atas keprihatinan terhadap minimnya kesadaran lingkungan di kalangan remaja. Saya dan tim guru merasa perlu memberikan ruang bagi siswa untuk mengaktualisasikan nilai-nilai agama dalam tindakan sehari-hari.

Setiap siswa diminta memilih satu bentuk perilaku cinta lingkungan, seperti hemat listrik di rumah, mengurangi plastik, menyiram tanaman, atau mengelola sampah, dan mendokumentasikan praktiknya dalam jurnal harian. Jurnal ini mencatat apa yang mereka lakukan, refleksi spiritual mereka, dan keterkaitannya dengan ayat Al-Qur’an atau hadits.

Di akhir semester, siswa mempresentasikan pengalaman mereka di kelas, saling berbagi inspirasi, dan mengevaluasi perjalanan spiritual mereka. Hasilnya cukup mengesankan. Beberapa siswa mulai membawa botol minum sendiri ke sekolah, mengajak keluarga memilah sampah, bahkan satu kelompok membuat kompos sederhana dari sisa dapur.

Pengalaman ini membuka mata saya bahwa ekoteologi tidak harus dimulai dari forum besar atau kebijakan nasional. Ia bisa tumbuh dari kelas-kelas kecil madrasah, dari tangan-tangan siswa yang menyiram bunga di halaman, dari guru-guru yang mengajak berzikir sambil memperhatikan langit biru dan pepohonan. Ketika pembelajaran agama mampu menyentuh aspek ekologis, maka spiritualitas peserta didik tidak hanya tumbuh ke atas, tetapi juga membumi.

Kesadaran ekoteologis yang ditanamkan di ruang kelas sesungguhnya tidak bisa berdiri sendiri. Untuk menciptakan dampak yang lebih luas, upaya ini perlu diperkuat melalui kolaborasi di tingkat komunitas dan lintas sektor. Pendidikan di madrasah hanyalah satu titik awal; nilai-nilai cinta lingkungan harus mengalir ke ruang-ruang sosial yang lebih besar, termasuk forum keagamaan dan masyarakat lintas iman.

Sebagai bagian dari komunitas keagamaan seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di daerah saya, saya menyadari bahwa isu lingkungan harus menjadi agenda bersama lintas agama dan budaya. Dalam berbagai dialog dan forum yang kami selenggarakan, saya melihat bahwa banyak konflik sosial berakar dari ketimpangan dalam pengelolaan sumber daya alam, baik itu air, hutan, maupun lahan pertanian. Ketika masyarakat kekurangan akses terhadap sumber daya tersebut, ketegangan dan perselisihan pun mudah muncul, bahkan memicu gesekan antarumat beragama.

Oleh karena itu, mencintai dan merawat bumi bukan sekadar tindakan ekologis, tetapi juga strategi perdamaian. Saya sering mengusulkan agar program keagamaan seperti doa bersama lintas agama, penyuluhan kerukunan, atau bakti sosial, disandingkan dengan aksi konkret seperti penanaman pohon, bersih lingkungan, atau pelatihan pengelolaan sampah berbasis rumah ibadah. Misalnya, dalam salah satu pertemuan FKUB tingkat kabupaten, saya menginisiasi kegiatan “Gerakan Rumah Ibadah Ramah Lingkungan” yang mendorong masjid, gereja, dan vihara untuk mulai mengurangi penggunaan plastik dan melakukan daur ulang limbah domestik. Respons dari komunitas sangat positif, karena isu lingkungan ternyata bisa menjadi titik temu yang menyatukan nilai-nilai keimanan lintas keyakinan.

Melalui ruang-ruang inilah saya belajar bahwa ekoteologi bukan hanya gagasan teoretis, tetapi bisa menjadi jembatan kolaborasi nyata antara spiritualitas dan tanggung jawab sosial. Ketika berbagai pemuka agama duduk bersama, bukan hanya membicarakan perbedaan teologi, tetapi juga masa depan bumi yang sama-sama kita huni, di situlah benih ekoteologi tumbuh subur dalam kebersamaan. Dengan pendekatan ini, kita tidak hanya membangun kesalehan pribadi, tetapi juga kesalehan sosial dan ekologis yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Cinta terhadap alam adalah jalan sunyi tetapi penuh makna dalam mendekatkan diri kepada Allah. Alam adalah kitab terbuka yang mengajarkan kita tentang kebesaran, kesabaran, dan ketelitian-Nya. Saat kita menyentuh tanah dengan niat menanam, saat kita memungut sampah dengan niat menjaga kesucian bumi, saat itulah kita sedang beribadah dalam diam. Ibadah yang tidak terlihat di mimbar, tetapi tercatat di langit sebagai bentuk ketaatan.

Kini saatnya kita menempatkan cinta lingkungan sebagai bagian dari kurikulum keimanan. Sudah terlalu lama kita memisahkan ajaran tauhid dari isu-isu ekologis. Padahal dalam Islam, semua itu satu kesatuan. Tauhid bukan hanya mengesakan Allah di lisan, tetapi juga menghormati ciptaan-Nya di setiap langkah. Maka, marilah kita mendidik generasi yang tidak hanya rajin beribadah secara ritual, tetapi juga peduli terhadap lingkungan sebagai bentuk ibadah spiritual.

Cinta alam adalah cinta yang tidak meminta balasan. Ia adalah ibadah sunyi yang dibayar dengan keberkahan. Dalam nafas ekoteologi Islam, setiap tetes air yang dijaga, setiap daun yang ditanam, dan setiap sampah yang dipungut adalah dzikir, amal, dan doa. Maka, jika cinta kepada Tuhan adalah puncak ibadah, mencintai ciptaan-Nya adalah jembatan menuju puncak itu. Bumi adalah amanah, dan merawatnya adalah ibadah.

 

***) Penulis adalah Praktisi Pendidikan, Da’i Konservasi dan Anggota FKUB Ketapang

Alamat Penulis : BTN Gerbang Mutiara Blok A Nomor 7 Kelurahan

Kauman Benua Kayong Ketapang

Advertisement Banner
Previous Post

Pertemuan Luar Biasa Untuk Menguatkan Kerukunan Regional Kalimantan 

Next Post

Ketua FKUB Sintang Ingatkan Generasi Muda: Bijak Bermedia Sosial, Jaga Toleransi Beragama

admin

admin

Next Post
Ketua FKUB Sintang Ingatkan Generasi Muda: Bijak Bermedia Sosial, Jaga Toleransi Beragama

Ketua FKUB Sintang Ingatkan Generasi Muda: Bijak Bermedia Sosial, Jaga Toleransi Beragama

Discussion about this post

Recommended

Featured Video Play Icon

Podcast Kerukunan 22 : WALUBI Kalbar dan Kiprahnya dalam Merawat Harmoni

4 bulan ago
Perkuat Kerjasama Regional, FKUB se-Kalimantan Lakukan Rapat Koordinasi

Perkuat Kerjasama Regional, FKUB se-Kalimantan Lakukan Rapat Koordinasi

3 tahun ago

Don't Miss

Catatan RAKORNAS FKUB 2026 : Ini Pesan Presiden Prabwo Subianto

Catatan RAKORNAS FKUB 2026 : Ini Pesan Presiden Prabwo Subianto

Februari 4, 2026
RAKORNAS 2026: FKUB Kalbar Apresiasi Penguatan Peran FKUB

RAKORNAS 2026: FKUB Kalbar Apresiasi Penguatan Peran FKUB

Februari 4, 2026
FKUB Ketapang Gelar Gerakan Jumat Bersih

FKUB Ketapang Gelar Gerakan Jumat Bersih

Januari 30, 2026
FKUB Kabupaten Ketapang Hadiri HUT ke-69 Provinsi Kalimantan Barat

FKUB Kabupaten Ketapang Hadiri HUT ke-69 Provinsi Kalimantan Barat

Januari 28, 2026
Forum Kerukunan Umat Beragama Kalimantan Barat

@ 2020 Humas FKUB Kalimantan Barat

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Sejarah SIngkat
    • Visi Misi
    • Urgensi FKUB
    • Dasar Hukum
    • Tujuan dan Strategi
    • Program Kerja
    • Struktur Organisasi
  • Berita
    • Nasional
    • Daerah
      • Kabupaten Bengkayang
      • Kabupaten Kapuas Hulu
      • Kabupaten Kayong Utara
      • Kabupaten Ketapang
      • Kabupaten Kubu Raya
      • Kabupaten Landak
      • Kabupaten Melawi
      • Kabupaten Mempawah
      • Kabupaten Sambas
      • Kabupaten Sanggau
      • Kabupaten Sekadau
      • Kabupaten Sintang
      • Kota Pontianak
      • Kota SIngkawang
  • Mimbar Rohani
    • Islam
    • Kristen
    • Katholik
    • Hindu
    • Buddha
    • Konghuchu
  • Budaya
  • Opini
  • Galeri
    • Foto
    • Video

@ 2020 Humas FKUB Kalimantan Barat