PONTIANAK – fkub-kalbar.or.id, Indonesia bukanlah satu agama, melainkan enam agama dengan satu aliran kepercayaan. Indonesia juga bukanlah satu etnik, budaya, bahasa, dan kepulauan, melainkan terdiri atas berbagai etnik, budaya, bahasa, dan kepulauan. Dengan begitu, kita harus menempatkan keragaman sebagai bagian yang tak terpisahkan dari keindonesiaan kita. Bahkan, keragaman justru merupakan suatu anugerah yang harus disyukuri oleh bangsa ini.
”Keragaman kita harus dirawat bersamaan dengan kewajiban kita merawat kerukunan,” demikian antara lain poin penting dari materi kuliah umum Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kalimantan Barat di hadapan ratusan mahasiswa Untan Pontianak. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pendikar Pancasila Untan yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting, Sabtu (13/12).
Di awal materinya, Ketua FKUB Kalbar mengajak semua peserta merenung akan hakikat perbedaan. Ia melontarkan pertanyaan kritis, “Mengapa kita berbeda agama, etnik, budaya, dan sebagainya? Adakah kita pernah meminta dilahirkan dalam satu agama tertentu, atau sebagai etnik tertentu?”
”Tidak, kan?” tegasnya.
”Jika demikian, mengapa kita terlahir dalam perbedaan agama, etnik, budaya, dan sebagainya?” tanyanya lagi untuk mengajak mahasiswa berpikir kritis.
Guru Besar IAIN Pontianak ini menjelaskan bahwa inilah hakikat dari perbedaan dan keragaman itu. Kita berbeda karena kehendak Tuhan yang menciptakan.
”Perbedaan kita sesungguhnya adalah anugerah Tuhan yang harus kita terima dengan lapang dada, dihargai, dan dipahami. Sebab, perbedaan kita adalah ujian untuk kita berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat),” ujarnya.
Dengan demikian, adalah kewajiban semua pihak untuk menjaga dan merawat keragaman Indonesia dan Kalimantan Barat. Sebab, keragaman adalah bagian yang tak terpisahkan dari Indonesia dan Kalimantan Barat yang dicintai. Merawat kerukunan sama artinya dengan merawat keragaman itu sendiri. Menjaga persatuan dan kesatuan sama artinya dengan menjaga dan merawat keragaman.
”Sebab, persatuan dan kesatuan tidak akan pernah menjadi penting jika kita tidak beragam atau tidak berbeda. Karena itu, mari kita berjanji untuk selamanya Indonesia, selamanya Kalimantan Barat rukun, aman, dan harmonis,” tegas Ketua FKUB Kalbar mengakhiri kuliah umumnya.
Sekadar informasi, program Pendikar (Pendidikan Karakter) Pancasila merupakan satu program ekstrakurikuler yang dibentuk dengan tugas khusus menanamkan wawasan kebangsaan, kerukunan, dan Pendidikan Karakter Pancasila kepada semua mahasiswa baru yang berasal dari berbagai latar belakang agama.
”Melalui program Pendikar Pancasila, mahasiswa diberikan pengalaman berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman-teman yang berbeda agama. Mahasiswa juga diberikan pengalaman membangun kelompok kerja dengan melibatkan anggota dari berbagai latar belakang agama yang berbeda,” jelas Riadi Budiman, Ketua Program Pendikar Pancasila, saat membuka dan memandu kuliah umum.
Sekadar informasi, program PENDIKAR (Pendidikan Karakter) Pancasila merupakan satu program ko-kurikuler yang dibentuk dengan tugas khusus menanamkan nilai-nilai Pancasila, wawasan kebangsaan, kerukunan, dan bela negara kepada semua mahasiswa baru yang berasal dari berbagai latar belakang suku, agama, ras, antar golongan (SARA).
”Melalui program PENDIKAR Pancasila UNTAN, mahasiswa diberikan pengalaman berinteraksi dan berkomunikasi dengan kawan-kawan yang berbeda agama. Mahasiswa juga diberikan pengalaman membangun kelompok diskusi dengan melibatkan anggota dari berbagai latar belakang agama yang berbeda,” jelas Riadi Budiman, Kepala Pusat PENDIKAR Pancasila, saat membuka dan memandu kuliah umum.








Discussion about this post