Oleh :M. Nashir Syam, M.Pd.I
Anggota FKUB Kabupaten Ketapang
5 Oktober bukan sekadar momentum untuk mengenang perjalanan sejarah tentara Indonesia. Ia juga menjadi saat yang baik untuk merenungkan kembali salah satu tugas penting kekuatan pertahanan negara: menjaga keutuhan bangsa di tengah keberagaman.
Indonesia bukanlah bangsa yang dibangun dari keseragaman. Kita berbeda agama, suku, budaya, bahasa dan tradisi. Namun perbedaan itu bukan alasan untuk saling menjauh. Justru keberagaman itulah yang menjadi kekayaan sekaligus kekuatan Indonesia.
Dalam konteks inilah, peran ABRI/TNI—dalam nomenklatur sekarang TNI—tidak hanya dapat dilihat dari perspektif pertahanan keamanan, tetapi juga dari kontribusinya dalam menjaga ruang kehidupan yang aman dan damai bagi seluruh warga negara.
Kerukunan umat beragama membutuhkan rasa aman. Rumah ibadah membutuhkan rasa aman. Masyarakat yang berbeda keyakinan membutuhkan jaminan untuk menjalankan ibadahnya dengan tenang. Dialog lintas agama membutuhkan suasana yang kondusif.
Karena itu, menjaga harmoni bukan hanya tugas tokoh agama atau lembaga keagamaan. Kerukunan adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa.
Bagi umat beragama, kerukunan berarti mampu hidup berdampingan tanpa harus mencampuradukkan akidah. Kita boleh berbeda dalam keyakinan, tetapi tetap bertemu dalam kemanusiaan.
Di sinilah semboyan Bhinneka Tunggal Ika menemukan maknanya: berbeda-beda, tetapi tetap satu sebagai bangsa Indonesia.
Momentum 5 Oktober kiranya dapat menjadi pengingat bahwa pertahanan negara bukan hanya menjaga batas wilayah, tetapi juga menjaga persaudaraan kebangsaan.
Sebab bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang memiliki pertahanan yang tangguh, tetapi juga bangsa yang masyarakatnya mampu menghormati perbedaan, menjaga persatuan dan menolak segala bentuk kebencian.
Selamat Hari ABRI/TNI, 5 Oktober.
Semoga TNI senantiasa menjadi bagian dari kekuatan bangsa dalam menjaga NKRI, persatuan, keamanan, dan harmoni kehidupan umat beragama.
Berbeda keyakinan, tetap bersaudara.
Berbeda tradisi, tetap Indonesia.
Berbeda cara beribadah, tetap bersama menjaga Indonesia.








Discussion about this post