Oleh; Dr.Patmawati
Memasuki awal bulan Ramadan, teman-teman dari etnis Tionghoa di klub bulu tangkis sudah sibuk menanyakan kepada saya mengenai buka puasa bersama sekaligus merayakan Imlek. Sempat tebersit rasa ragu mengenai perayaan Imlek sebelum mencari informasi dari teman Tionghoa mengenainya. Ternyata, Imlek merupakan tradisi seluruh etnis Tionghoa. Karena berada di ranah tradisi, perayaan Imlek bisa bergandengan dengan buka puasa bersama. Keduanya berada di ranah sosial.
Kepanitiaan pun dibentuk dan digawangi oleh teman dari etnis Tionghoa. Sebagai penjaga gawang, ia harus mengatur bagaimana acara Imlek dan buka puasa bersama bisa berjalan beriringan. Bagian konsumsi dipegang oleh teman dari etnis Melayu sehingga tidak ada keraguan untuk menyantap makanan yang disuguhkan. Mengenai pendanaan, panitia menerima daftar sumbangan dari orang tua atlet tanpa paksaan. Sumbangan yang masuk lumayan besar sehingga panitia bisa semringah dan tidak berat menanggung biaya; bahkan, dana pun tersisa.
Acara berlangsung secara meriah dengan makanan yang berlimpah. Banyak orang tua yang membawa makanan sehingga buka puasa bersama sangat dinikmati oleh para atlet dan orang tua. Setelah mencicipi makanan ringan untuk membatalkan puasa, kami yang beragama Islam salat Magrib terlebih dahulu, barulah menyantap makanan berat. Teman-teman dari etnis Tionghoa menunggu kami yang sedang salat. Setelah itu, barulah kami makan bersama-sama.
Sebelum acara buka puasa dan Imlek berakhir, salah satu panitia telah menyiapkan uang pribadinya untuk membagi-bagikan angpau. Semua atlet berbaris untuk mendapatkannya. Saya bertanya kepada salah satu atlet, “Bagaimana rasanya buka puasa bersama dan Imlek?”
Ia menjawab, “Saya senang karena mendapat angpau, makan bersama teman-teman, dan tidak makan menu seperti di rumah.”
Ia mengakhiri jawabannya dengan harapan semoga suasana acara seperti ini terus berlanjut karena menjadi ajang keakraban para atlet dan orang tua. Jawaban yang lugu dan lugas tersebut bahkan memberi pelajaran bagi kita semua bahwa anak-anak lebih siap menerima perbedaan dibandingkan orang dewasa yang kadang sudah tersekat dengan istilah “orang kita dan orang mereka”.








Discussion about this post