Pontianak -fkub-kalbar.or.id, Di tengah derasnya arus disrupsi informasi, Guru Besar Filologi IAIN Pontianak , Prof. Dr. Faizal Amin, M.Ag., mengajak masyarakat untuk kembali menggali kearifan yang tersimpan dalam manuskrip-manuskrip kuno. Menurutnya, naskah tulisan tangan yang berusia puluhan hingga ratusan tahun ini merupakan sumber primer yang kaya akan nilai-nilai universal dan dapat menjadi bingkai kerja sama kemanusiaan dan kebangsaan. Sabtu, 26/07.
Dalam paparannya, Prof. Faizal menjelaskan bahwa manuskrip tidak hanya berisi catatan sejarah, tetapi juga mencakup berbagai aspek kehidupan mulai dari sastra, ilmu pengetahuan, pengobatan, hingga pengetahuan agama seperti fikih dan tasawuf. “Manuskrip adalah tulisan tangan yang berusia minimal 50 tahun dan memiliki nilai penting untuk kebudayaan nasional, sejarah, dan ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Ia mencontohkan beberapa manuskrip seperti “Kitab Run Istinja” dan “Hikayat Wasiat Nabi” yang menunjukkan adanya perpaduan antara norma sosial, nilai-nilai Melayu Islam, dan nilai-nilai historis. Lebih lanjut, manuskrip dakwah dari Sunan Bayat juga ditemukan mengandung nilai-nilai luhur seperti kerendahan hati, anti-keserakahan, anti-kekerasan, dan penghormatan terhadap sesama.
“Nilai-nilai ini sebenarnya sudah dikembangkan oleh nenek moyang kita. Sangat penting untuk terus menggali serta melestarikannya agar kita tidak hanya mengadopsi nilai-nilai dari luar,” tegas Prof. Faizal.
Lebih jauh, ia menggarisbawahi bahwa ajaran universal agama yang terkandung dalam manuskrip mencakup petunjuk, prinsip, dan norma yang berlaku secara menyeluruh. Nilai-nilai seperti kasih sayang, penghormatan terhadap alam, dan toleransi menjadi landasan bagi terwujudnya dialog praktis antarumat beragama. Dialog ini dapat diwujudkan melalui pertemuan, diskusi, hingga kegiatan bersama untuk mengatasi permasalahan sosial atau sekadar membangun jembatan pemahaman.
Salah satu contoh kearifan lokal yang diangkat adalah ritual membuka ladang yang melibatkan doa dan pengamatan terhadap tanda-tanda alam, menunjukkan adanya nilai kasih sayang dan penghormatan terhadap alam.
Menutup paparannya, Prof. Faizal menekankan bahwa toleransi adalah buah dari cara beragama yang benar, bukan berarti menyamakan semua ajaran agama. “Penting bagi kita untuk menerima bahwa kita berbeda, saling memahami, dan mencari titik temu untuk menghormati perbedaan tersebut,” pungkasnya.
Dengan demikian, khazanah manuskrip nusantara terbukti menjadi warisan tak ternilai yang relevan hingga kini, menawarkan solusi untuk memperkuat jalinan kerja sama kemanusiaan dan kebangsaan melalui penerapan nilai-nilai universal seperti toleransi, kasih sayang, dan perdamaian.








Discussion about this post