Pontianak -fkub-kalbar.or.id, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kalimantan Barat, Drs. H. Manto Saidi, M.Si., mengajak generasi muda untuk memperluas makna toleransi, tidak hanya sebatas antarumat beragama, tetapi juga mencakup penghargaan terhadap budaya, tradisi, dan etnisitas. Hal ini disampaikannya dalam acara Talk Show Kerukunan Pelajar Pemuda Lintas Agama yang diselenggarakan oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kalimantan Barat.Sabtu, 26/07.
Menurut Manto, kunci utama dalam menumbuhkan toleransi adalah melalui interaksi dan komunikasi yang intensif. “Semakin sering kita berinteraksi dengan orang dari latar belakang etnis atau agama yang berbeda, maka kita akan semakin toleran,” ujarnya. Ia mencontohkan keharmonisan yang terjalin di antara pelajar SMA dari berbagai latar belakang agama sebagai bukti nyata bahwa perbedaan bukanlah halangan untuk bersatu.
Lebih lanjut, Manto menegaskan bahwa perbedaan, baik dalam hal agama maupun etnis, adalah sebuah keniscayaan dan kodrat dari Tuhan. Ia menganalogikan keberagaman ini dengan sebuah bangunan yang kokoh justru karena tersusun dari berbagai komponen yang berbeda. “Perbedaan itu membuat kita kuat dan indah. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menghormati dan menikmati setiap perbedaan yang ada,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Manto juga meluruskan pemahaman mengenai toleransi. Menurutnya, toleransi bukanlah upaya untuk menyamakan semua agama. Dalam hubungan vertikal dengan Tuhan, setiap individu memiliki keyakinan masing-masing yang bersifat privat. Namun, dalam hubungan horizontal sesama manusia, semua agama mengajarkan nilai-nilai universal seperti kebersamaan, keharmonisan, dan kasih sayang.
Menyoroti tantangan di era digital, Manto juga mengingatkan para pemuda untuk bijak dalam menggunakan media sosial. Ia mengimbau agar tidak mudah terprovokasi oleh ujaran kebencian dan informasi hoaks yang dapat memecah belah persatuan. “Berpikir jernih dengan mengedepankan empati adalah kunci untuk menyikapi setiap potensi konflik,” pesannya.
Di akhir paparannya, Kaban Kesbangpol menyinggung warisan kolonial yang masih membekas dalam bentuk dikotomi etnis di Kalimantan Barat. Ia berharap, para pemuda dapat menghapus warisan tersebut dan mengambil peran-peran strategis di masa depan untuk mewujudkan Kalimantan Barat yang damai dan harmonis.








Discussion about this post