Pontianak -fkub-kalbar.r.id Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Kalimantan Barat menggelar kegiatan talk show kerukunan pelajar pemuda lintas agama. Acara yang telah memasuki tahun ketiga ini bertujuan untuk merajut kerukunan dan kedamaian di tengah keberagaman, dengan fokus utama pada generasi muda sebagai agen perubahan dan calon pemimpin masa depan, Sabtu, 26/07.
Ketua Panitia, Dr. Zulkifli Abdilah, M.Ag, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini secara konsisten menyasar kalangan muda. “Tahun ini kami mengundang para pelajar dan pemuda dari berbagai organisasi kepemudaan dan mahasiswa. Kami percaya pemahaman tentang ajaran agama lain sangat penting untuk menumbuhkan sikap saling memahami dan toleran, bukan untuk saling menyalahkan,” ujarnya.

Zulkifli menambahkan bahwa filosofi di balik kegiatan ini adalah untuk mengamalkan ajaran agama yang mendorong umat manusia untuk saling mengenal, yang pada akhirnya akan membawa pada derajat takwa tertinggi. “Dengan saling mengenal, akan tumbuh sikap toleran yang menjadi kunci terciptanya kehidupan yang harmonis,” katanya. Beliau berharap para peserta yang berjumlah 50 orang dari enam agama (Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, dan Konghucu) dapat menjalin keakraban dan berdiskusi secara terbuka.
Sementara itu, Ketua FKUB Kalbar, Prof. Dr. Ibrahim, M.A., dalam sambutannya menekankan pentingnya peran pemuda dalam menjaga kerukunan. “FKUB yang hanya beranggotakan 21 orang tidak akan mampu mengawal kerukunan di Kalimantan Barat tanpa dukungan semua unsur, terutama dari kalangan pemuda dan pelajar yang berjumlah hampir 54 % dari populasi Indonesia,” tegasnya.
Prof. Ibrahim juga mengingatkan tentang dua wajah agama, mengutip buku “When Religions Become Evil” karya Charles Kimball. “Agama memiliki wajah ramah yang mengedepankan kasih sayang dan kedamaian, namun juga bisa memiliki wajah seram ketika klaim kebenaran tunggal (claim of truth) mendominasi,” jelasnya. Menurutnya, sikap merasa paling benar dan tidak menerima perbedaan dapat menjadikan agama sebagai sumber konflik.
“Tuhan tidak perlu dibela, yang perlu kita bela adalah kebaikan atas nama agama. Toleransi adalah jawabannya, yaitu meyakini kebenaran kita tanpa menghalangi kebenaran yang diyakini orang lain,” pungkasnya sebelum membuka acara secara resmi.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber yanh kompeten di bidangnya, yaitu Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Kalimantan Barat, Drs. H. Manto, M.Si., Wakil Dekan 1 Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN Pontianak, Prof. Dr. Faisal Amin, M.Ag., serta Ketua FKUB Kalbar sendiri, Prof. Dr. Ibrahim, M.A. Sementara para peserta talkshow yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, dan perwakilan organisasi kepemudaan lintas agama, diharapkan dapat menjadi pelopor dalam membangun dan merawat harmoni kehidupan umat beragama di Kalimantan Barat.








Discussion about this post