Oleh: H. Burhansyah, S.Ag., M.Pd (Panitera)
Pendahuluan
Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) bukan sekadar ajang perlombaan membaca, menafsirkan, dan menulis tentang Al-Qur’an. Lebih dari itu, MTQ adalah wahana membumikan Kalamullah dalam kehidupan umat Islam. Salah satu cabang yang memiliki nilai strategis adalah Karya Tulis Ilmiyah Al-Qur’an (KTIQ), karena menghadirkan interaksi intelektual, spiritual, dan sosial dengan Al-Qur’an.
Melalui KTIQ, generasi Qur’ani diajak untuk mengkaji makna terdalam ayat-ayat Allah, menghubungkannya dengan realitas kekinian, dan menghadirkan solusi atas problem umat. Inilah jalan menuju Makrifatul Qur’an—pengenalan, penghayatan, dan pengamalan Al-Qur’an secara lebih luas.
Landasan Qur’ani
Al-Qur’an sendiri menegaskan urgensi tadabbur, penulisan, dan pengembangan ilmu.
1. Tadabbur dan pemahaman mendalam
> “Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang berakal.” (QS. Shad: 29)
Ayat ini menegaskan bahwa setiap karya ilmiyah Al-Qur’an harus berangkat dari tadabbur yang mendalam, bukan sekadar membaca di permukaan.
2. Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup
> “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus…” (QS. Al-Isra: 9)
Tulisan ilmiyah Qur’ani menjadi sarana menghadirkan Al-Qur’an sebagai pedoman praktis dalam kehidupan umat.
3. Keterhubungan dengan ilmu
> “Sebenarnya Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu…” (QS. Al-Ankabut: 49)
KTIQ adalah wujud aktualisasi ilmu yang tumbuh dari interaksi ruhani dengan Al-Qur’an.
4. Kemuliaan orang berilmu
> “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Melalui tulisan, ilmu dipelihara, diwariskan, dan dijadikan amal jariyah.
Makrifatul Qur’an dalam KTIQ
Makrifatul Qur’an bermakna mengenal Allah melalui Kalam-Nya. Dalam konteks karya tulis ilmiyah, makrifat ini memiliki beberapa dimensi:
1. Dimensi Intelektual
KTIQ melatih generasi Muslim berpikir kritis, ilmiah, dan sistematis berdasarkan Al-Qur’an.
2. Dimensi Spiritual
Setiap penulisan bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi ibadah yang menghubungkan penulis dengan Allah.
3. Dimensi Sosial
Tulisan Qur’ani memberi kontribusi nyata untuk perbaikan masyarakat—membahas isu-isu kontemporer dengan solusi Qur’ani.
Relevansi MTQ XXXIII Kapuas Hulu
MTQ XXXIII Kapuas Hulu menjadi momentum strategis untuk melahirkan generasi Qur’ani yang tidak hanya pandai membaca, tetapi juga mampu menulis, menafsirkan, dan mengkontekstualisasikan Al-Qur’an. KTIQ menjadi bukti bahwa Kalamullah dapat hidup di tengah dinamika sosial, politik, budaya, dan lingkungan Pemerintah Daerah serta masyarakat Kapuas Hulu,
terasa benar keramah tamahan serta marak acara Pembukaan MTQ XXXIII, serta bertebaran Sepanduk Ucapan Selamat mengikuti MTQ XXXIII Tahun 2025, di Kapuas Hulu/Putussibau.
Penutup
Makrifatul Qur’an melalui karya tulis ilmiyah adalah ikhtiar untuk membawa Al-Qur’an dari mushaf ke realitas, dari bacaan ke pemikiran, dari hafalan ke pengamalan. Dengan demikian, MTQ bukan sekadar perlombaan, tetapi sarana melahirkan peradaban Qur’ani yang berilmu, berakhlak, dan beramal.
> “Dan katakanlah: Ya Rabbku, tambahkanlah aku ilmu.” (QS. Thaha: 114)
Dari Value : MTQ XXXIII Tahun 2025. Cabang KTIQ.







Discussion about this post