Kubu Raya – fkub-kalbar.or.id Di tengah hamparan laut lepas Desa Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, berdiri kokoh sebuah bangunan yang menjadi simbol toleransi nyata. Kelenteng Xuan Wu Zhen Tan, atau yang lebih dikenal warga sebagai Kelenteng Timbul, bukan hanya menawarkan panorama unik rumah ibadah di atas air, melainkan juga menyimpan kisah inspiratif dari sosok penjaganya.
Adalah Slamet, seorang pria Muslim berusia 74 tahun yang telah mendedikasikan hampir separuh hidupnya untuk menjaga kelenteng tersebut. Selama kurang lebih 30 tahun, Slamet setia merawat tempat ibadah umat Tionghoa ini, sebuah bukti hidup bahwa perbedaan keyakinan bukanlah sekat bagi kemanusiaan dan tanggung jawab.
Setiap pagi, rutinitas Slamet dimulai pukul 07.00 WIB. Dari kediamannya di kawasan pabrik tepi pantai, ia menyeberangi laut menggunakan perahu kecil menuju kelenteng yang berjarak sekitar lima kilometer dari daratan itu. Dengan kondisi fisik yang terbatas karena kakinya tak lagi sempurna, semangat Slamet tak pernah surut hingga ia kembali pulang pada pukul 17.00 WIB, atau pukul 18.00 WIB di hari Minggu.
Menariknya, pengabdian Slamet kini dilakukan tanpa gaji tetap. Ia menuturkan pernah menerima upah sebesar Rp400 ribu per bulan, namun jumlah tersebut dirasa tidak mencukupi kebutuhan hidupnya sehingga ia sempat berhenti. Tak lama berselang, ia kembali diminta menjaga kelenteng yang dibangun sejak tahun 1969 itu, namun dengan sistem sukarela.
“Dulu saya digaji, tapi akhirnya berhenti karena tidak cukup. Sekarang saya dipanggil lagi, saya mau asalkan tidak digaji. Kalau tidak digaji itu rasanya lebih bebas, tidak terikat,” ujar Slamet.
Meski tak ada honor bulanan, rezeki Slamet tak pernah putus. Para pengunjung yang datang untuk beribadah maupun berwisata kerap memberikannya uang sukarela sebagai tanda terima kasih. Pengunjung kelenteng ini pun beragam, mulai dari warga lokal, wisatawan dari Jakarta, hingga turis mancanegara asal Belanda.
Bagi Slamet, menjaga tempat ibadah agama lain bukanlah masalah. Ia memegang prinsip sederhana: selama pekerjaan itu halal dan tidak melanggar norma, maka itu adalah ibadah.
“Semuanya sama saja menurut saya, tidak masalah. Asal tidak melanggar aturan,” tuturnya bijak.
Kisah Slamet ini turut menarik perhatian Kepala Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata Disporapar Kalbar, Rita Hastarita. Menurut Rita, keberadaan Slamet adalah potret nyata harmoni dalam keberagaman di Kalimantan Barat.
“Sosok Pak Slamet mencerminkan terjaganya toleransi beragama di Sungai Kakap. Ini menjadi harapan agar sinergi antarumat beragama terus terjalin erat,” ungkap Rita.
Di tengah deru ombak Laut Kubu Raya, Slamet tetap berdiri teguh, mengajarkan kita bahwa kerukunan bisa tumbuh di mana saja, bahkan di tengah laut sekalipun. (red)








Discussion about this post