Oleh: M.Nashir Syam
FKUB Ketapang
Bagi masyarakat Kalbar ada salam khas, sebagaimana kalimat di atas.
Ungkapan ini dapat ditafsirkan sebagai tiga pesan moral: keadilan, orientasi kepada kebaikan akhirat, dan kesadaran bahwa hidup berada dalam ketergantungan kepada Tuhan.
- Adil Ka’ Talino — Adil kepada sesama manusia
Dalam perspektif Islam, ini sangat dekat dengan konsep al-‘adl (العدل), yaitu keadilan.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.”
(QS. an-Nahl: 90)
Islam tidak membatasi keadilan hanya kepada sesama Muslim. Keadilan harus diberikan kepada siapa pun, tanpa memandang suku, agama, etnis, kedudukan, ataupun latar belakang.
Bahkan Allah berfirman:
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. al-Ma’idah: 8)
Maka Adil Ka’ Talino dapat kita maknai secara Islami:
“Mari berlaku adil kepada sesama manusia sebagai wujud ketakwaan kepada Allah.”
- Bacuramin Ka’ Saruga — Menjadikan surga sebagai orientasi hidup
Secara nilai, ungkapan ini dapat dibaca sebagai ajakan agar manusia bercermin kepada nilai-nilai luhur dan mengarahkan kehidupannya kepada keselamatan akhirat.
Dalam Islam, orientasi tertinggi seorang mukmin memang bukan sekadar kesenangan dunia, tetapi ridha Allah dan kehidupan akhirat.
Allah berfirman:
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”
(QS. al-A’la: 17)
Karena itu, “saruga” dalam perspektif Islam dapat kita jadikan simbol jannatul firdaus, kehidupan akhirat yang diridhai Allah.
Maka:
Bacuramin Ka’ Saruga dapat direnungkan sebagai:
“Jadikan kehidupan akhirat sebagai cermin dan orientasi dalam menjalani kehidupan dunia.”
Artinya, sebelum bertindak kita bertanya:
Apakah perbuatanku hari ini mendekatkanku kepada surga atau justru menjauhkanku dari rahmat Allah?
- Basengat Ka’ Jubata — Hidup bersandar kepada Tuhan
Nah, bagian ini yang perlu diberi catatan teologis ketika ditafsirkan dalam Islam.
Dalam konteks budaya Dayak, Jubata merupakan sebutan bagi Tuhan dalam tradisi setempat. Sementara dalam akidah Islam, kita menyebut Allah sebagai Allah سبحانه وتعالى.
Karena itu, jika hendak dibaca dalam perspektif Islam, substansi yang dapat diambil adalah kesadaran ketuhanan: bahwa manusia hidup, bernapas, bergantung, dan akhirnya kembali kepada Allah.
Allah berfirman:
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
“Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Mahahidup, Yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya.”
(QS. al-Baqarah: 255)
Dan:
وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ
“Dan kepada-Nyalah tempat kembali.”
(QS. al-Mulk: 15)
Maka bagi seorang Muslim, ungkapan ini dapat direnungkan sebagai:
“Hidup dengan kesadaran bahwa seluruh kehidupan berada dalam kuasa Allah dan kepada-Nya kita akan kembali.”
Kalau dirangkai menjadi tafsir Islami
Saya kira sangat indah kalau kita menyampaikannya seperti ini:
Adil Ka’ Talino — berlaku adillah kepada sesama manusia.
Bacuramin Ka’ Saruga — jadikan akhirat dan nilai-nilai kebaikan sebagai orientasi hidup.
Basengat Ka’ Jubata — sadari bahwa hidup bersumber dari Tuhan dan kepada-Nya kita akan kembali.
Atau dalam bahasa yang lebih Islami dan filosofis:
“Kepada manusia kita menegakkan keadilan, kepada kehidupan kita menanam kebaikan, dan kepada Allah kita menyandarkan seluruh pengabdian.”
Ini bisa menjadi jembatan kerukunan di Kalbar
Menurut saya, justru di sinilah keindahan ungkapan tersebut dalam konteks Kalimantan Barat yang multietnis dan multiagama. Seorang Muslim tidak harus menghilangkan identitas budaya masyarakat Dayak untuk menemukan nilai yang dapat dihargai bersama.
Islam mengenal prinsip:
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
“Untukmu agamamu dan untukku agamaku.”
(QS. al-Kafirun: 6).
Tetapi dalam kehidupan sosial, Islam juga mengajarkan ta’aruf, ta’awun, keadilan, penghormatan, dan hidup berdampingan secara damai.
Jadi, kalau ungkapan itu digunakan dalam forum kerukunan, saya kira seorang Muslim dapat menangkap pesan moralnya sebagai:
“Adil kepada sesama, baik dalam kehidupan, dan sadar kepada Tuhan.”
Dan itu sangat dekat dengan tiga fondasi kehidupan sosial yang diajarkan Islam: ‘adl (keadilan), ihsan (kebaikan), dan taqwa (ketakwaan).






Discussion about this post