Oleh: Ahmad Jais
“Manusia itu ada dua macam: saudaramu seagama, atau sesamamu dalam kemanusiaan.” (Ali bin Abi Thalib)
Pagi ini, di lapangan upacara Kampus IAIN Pontianak, bendera Merah Putih berkibar dalam suasana khidmat memperingati 17 Agustus 2026. Rektor IAIN Pontianak, Prof. Dr. H. Wajidi Sayadi, M. Ag, periode 2026-2030, selaku pembina upacara, menyampaikan pesan yang menghunjam: bahwa agama, apa pun bentuk rumah ibadahnya, masjid, gereja, pura, maupun vihara harus hadir sebagai pencerahan dan perekat bagi umat, bukan sebagai sekat yang memisahkan. Setiap manusia, dalam perjalanan hidupnya, pasti pernah menghadapi perbedaan yang menggoda hati untuk curiga dan menjauh.
Para pejuang kemerdekaan pun demikian, mereka bahu-membahu lintas suku dan agama demi satu cita-cita, sebagaimana para nabi dan ulama terdahulu yang hidup berdampingan dengan umat berbeda keyakinan, tanpa kehilangan keteguhan iman mereka.
Rasulullah SAW memberi teladan agung dalam hal ini. Diriwayatkan bahwa suatu ketika lewat sebuah jenazah di hadapan Nabi, lalu beliau berdiri untuk menghormatinya. Para sahabat berkata, “Itu jenazah seorang Yahudi.” Nabi menjawab, “Bukankah ia juga jiwa (manusia)?” (HR. Bukhari no. 1312, Muslim no. 961).
Sikap ini menunjukkan bahwa kemuliaan manusia sebagai ciptaan Allah tetap dihormati, terlepas dari perbedaan keyakinannya.
Allah berfirman:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13).
Ayat ini menegaskan bahwa perbedaan suku, bangsa, bahkan keyakinan, diciptakan bukan untuk saling membenci, melainkan agar manusia saling mengenal dan memahami.
Teladan ini pernah dipraktikkan Umar bin Khattab ketika membebaskan Baitul Maqdis. Saat waktu shalat tiba di dalam Gereja Makam Suci, uskup mempersilakannya shalat di dalam gereja. Namun Umar menolak dan memilih shalat di luar. Ia berkata,
“Jika aku shalat di dalam, umat Islam sesudahku akan mengklaimnya dan mengambil gereja ini darimu.”
Sikap ini menjaga hak umat lain sekaligus menunjukkan keluhuran akhlak seorang pemimpin.
Rasulullah bersabda,
“Ketahuilah, barangsiapa
menzalimi seorang mu’ahad (yang terikat perjanjian damai), mengurangi haknya, membebaninya di luar kemampuannya, atau mengambil sesuatu darinya tanpa kerelaan, maka aku akan menjadi musuhnya pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud).
Hadis ini memperkuat bahwa keadilan terhadap sesama, tanpa memandang agama, adalah bagian dari iman.
Di era digital, ujaran kebencian dan fitnah menyebar begitu cepat lewat media sosial. Nabi mengingatkan,
“Muslim yang sejati adalah yang membuat orang lain selamat dari lisan dan tangannya” (HR. Bukhari).
Waspadalah terhadap ghibah, fitnah, dan prasangka buruk, sebagaimana Allah memperingatkan dalam QS. Al-Hujurat: 12 agar menjauhi buruk sangka. Sikap terbaik justru ditunjukkan Allah dalam QS. Al-Mumtahanah: 8, bahwa Dia tidak melarang berbuat baik dan adil kepada mereka yang tidak memusuhi karena agama.
Seperti sungai-sungai yang berbeda sumber namun bermuara pada satu lautan, begitulah semestinya umat manusia, berbeda jalan keyakinan, namun bersatu dalam kemanusiaan dan kebaikan. Kelak, setiap sikap kita terhadap sesama akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.
Ya Allah, kuatkanlah iman kami agar tetap teguh, dan lapangkanlah hati kami untuk hidup rukun dalam perbedaan. Jadikan kami perekat, bukan pemecah, di antara sesama anak bangsa. Amin.
@ Anggota FKUB Propinsi Kalbar, dosen Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin & Adab, IAIN Pontianak. Jl. letjend. Soeprapto No. 19, Pontianak, West Kalimantan.







Discussion about this post