Oleh: Prof.Dr.Ibrahim,MA
Di tengah suasana penuh hikmad mendampingi dan mengawasi para peserta yang sedang serius menulis dalam lomba Karya Tulis Ilmiah Hadits, pikiran saya terseret jauh ke era para sahabat yang dibimbing langsung oleh Nabi Saw dalam menerima dan menjaga periwayatan hadits. Saat-saat dimana tradisi tulis menulis sangat langka. Kelengkapan menulis juga sangat-sangat terbatas hanya di atas pelepah kurma, batu bahkan tulang belulang. Saat dimana literasi tulis menulis masih menjadi barang langka. Karena itu tradisi hafalan menjadi satu-satu proses pendokumentasian ilmu pengetahuan yang diandalkan saat itu.
Tapi satu hal yang selalu membuatku bangga atas semua itu adalah wujudnya pewarisan tradisi literasi yang luar biasa telah dibangun oleh Nabi dan para sahabat saat itu. Itulah tradisi periwayatan hadits, yang menjadi inspirasi substansial dari tradisi Ilmiah hari ini.
Kalau hari ini Ilmu pengetahuan ilmiah modern menetapkan kebolehan verifikasi sebagai syarat utama sesuatu diterima sebagai pengetahuan ilmiah, maka ketentuan tersebut sesungguhnya sudah dilakukan pada masa Rasulullah dan sahabat periwayat hadits.
Jika hari ini pengetahuan ilmiah wajib dibangun atas dasar sumber data, materi dan rujukan yang terpercaya dan dapat diverifikasi, maka periwayatan hadits sudah terlebih dahulu mensyaratkan para perawinya seorang individu yang juga terpercaya. Perawi hadits haruslah pribadi yang jujur, berakhlak, berintegritas dan dapat dipercaya. Sehingga ia juga di percaya menjaga dan memelihara pesan-pesan tertentu yang diterimanya dari Rasulullah Muhammad Saw.
Para periwayat hadits juga harus seseorang yang terpercaya bertemu atau mendengarkan sesuatu dari Nabi Saw (Hadits), dan itulah yang disebut ilmu musnad hadits.
Hari ini, dalam momentum lomba Karya Tulis Ilmiah Hadits, para peserta lomba sesungguhnya sedang berjuang mempraktekkan cara kerja ilmiah yang diajarkan melalui periwayatan hadits. Para peserta sedang merefleksikan prinsip kerja periwayatan hadits dalam literasi komunikasi modern, praktek menulis sebagai wujud literasi komunikasi era kekinian.
Apa yang saya pikirkan dan saya refleksi ini semakin meneguhkan keyakinan dan rasa bangga diri saya, bahwa cara kerja ilmiah hari ini (verifikasi dst) ternyata tidak lain adalah bentuk lain dari praktek literasi ilmiah para sahabat Nabi Saw.
Melalui karya Tulis Ilmiah Hadits, para peserta telah ikut serta membangun jembatan komunikasi Islam, yang menghubungan pesan dakwah dan keislaman melintasi batas waktu, ruang dan zaman. Melalui Karya Tulis Hadits para peserta membawa nuansa literasi ilmiah periwayatan hadits hidup dan dikenali kembali di era literasi komunikasi saat ini
Melalui karya ini pulalah para menulis sesungguhnya sudah ikut membangun gagasan dan jembatan komunikasi Islam era kekinian. Selamat berlomba, selamat menulis Karya Ilmiah Hadits sebagai jembatan komunikasi Islam Modern. (Venue Lomba, SMKN 1 Sukadana 4 Agustus 2026)







Discussion about this post