PONTIANAK – fkub-kalbar.or.id Dalam suasana penuh keakraban pada acara Silaturahmi Kerukunan yang diselenggarakan oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kalimantan Barat, Pastor Pius Barces, CP, memberikan pencerahan mendalam mengenai kekayaan tradisi dalam Gereja Katolik. Ia memaparkan adanya perbedaan antara Ritus Barat dan Ritus Timur yang mungkin belum banyak diketahui umat awam, namun keduanya bernaung di bawah satu kepemimpinan Paus di Vatikan.
Acara yang yang dilaksanakan pada Rabu, 20/8, di Majelis Agama Katolik, Gedung Keuskupan Agung Pontianak. Dalam forum tersebut, Pastor Pius menjelaskan bahwa Gereja Katolik sesungguhnya sangat kaya akan tradisi.
“Gereja Katolik itu tidak hanya Gereja Katolik Roma atau Ritus Latin yang seperti kita kenal sekarang, tetapi ada juga Gereja Katolik Ritus Timur,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa secara historis, perpecahan besar pada tahun 1054 memisahkan Gereja Barat yang berpusat di Roma dan Gereja Timur di Konstantinopel. Namun, seiring waktu, sebagian dari Gereja Timur kembali bersatu dengan Roma. Mereka tetap mempertahankan tradisi, liturgi, dan hukum gereja mereka sendiri, namun mengakui Paus sebagai pemimpin tertinggi. Inilah yang kemudian dikenal sebagai Gereja Katolik Ritus Timur.
Lebih lanjut, Pastor Pius menguraikan struktur hierarki Gereja Katolik yang berlaku universal. Di puncak kepemimpinan adalah Paus, yang merupakan Uskup Roma dan pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia. Di bawah Paus, terdapat para Kardinal yang bertugas sebagai penasihat Paus dan memiliki hak untuk memilih Paus yang baru.
Selanjutnya adalah para Uskup, yang memimpin sebuah keuskupan atau dioses. Uskup Agung adalah uskup yang mengepalai sebuah provinsi gerejawi yang terdiri dari beberapa keuskupan. Di bawah uskup, terdapat para Imam atau Pastor yang melayani umat di paroki-paroki. Para imam dibantu oleh Diakon, yang dapat memimpin beberapa upacara sakramen. Struktur ini, kata dia, berlaku untuk seluruh Gereja Katolik, baik Ritus Barat maupun Timur.
Penjelasan dari Pastor Pius Barces ini membuka wawasan baru bagi para peserta yang hadir, menyoroti betapa Gereja Katolik memiliki keragaman dalam kesatuan. Dialog seperti ini menjadi sangat penting dalam rangka memperkuat kerukunan dan saling pengertian antarumat beragama, sejalan dengan tujuan diselenggarakannya acara oleh FKUB Kalimantan Barat. (Red)








Discussion about this post