Oleh: Prof.Dr.Ibrahim,MA
Ketua FKUB Kalbar
Bicara harmoni bukanlah sebuah seremonial semata, apalagi hanya sekedar retorika formal yang tak jelas maksud dan praktek sosialnya. Bicara harmoni seyogyanya bicara fakta, bicara sesuatu yang lahir dari praktek sosial yang hidup dan dilakukan dalam interaksi sosial masyarakat, sebagaimana pada masyarakat petani di salah satu kampung kecil di pedalaman Kapuas Hulu, yakni Nanga Jajang.
Di sini berdiam masyarakat muslim yang mayoritasnya bekerja sebagai petani, mulai dari petani ladang yang bekerja mananam padi setiap tahunnya, baik lahan kering (huma darat) maupun lahan basah (huma sawah). Sebagian besar para petani ladang ini juga bekerja menoreh getah (karet) di sela-sela pekerjaannya sebagai petani ladang. Kemudiaan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, beberapa dari masyarakat Nanga Jajang telah beralih menjadi petani purik (kratom), dimana mereka mananamnya sendiri, memetik hasil dan mengolahnya sendiri hingga bernilai ekonomi yang cukup menjanjikan pasca adanya kepastian status hukum purik sebagai tanaman legal.
Perjalanan Panjang penulis dalam mengamati dan mengikuti proses para petani di Nanga Jajang bekerja, terutama dalam mengelola lahar pertanian ladang dan kebun purik, tampak adanya satu kearifan lokal tradisional yang luar biasa menarik, yang memiliki banyak nilai filosofis kearifan sosial yang memperkuat harmoni di tengah masyarakat, yakni tradisi Bami` Ari.

Apa itu tradisi Bami` Ari? Ia adalah sebuah praktek sosial budaya yang lahir dan hidup dari kearifan lokal masyarakat Nanga Jajang (dan beberapa perkampungan di sekitarnya). Tradisi ini diamalkan dalam bentuk kerjasama dan bekerja bersama antar sesama petani untuk menyelesaikan suatu pekerjaan di lahan pertaniannya. Dalam prakteknya, para petani bersepakat untuk bekerja bersama secara bergeliran dari satu lahan ke lahan lainnya. Jika hari ini si A bekerja di lahan si B, maka berikutnya giliran si B yang akan ikut bekerja dilahan si A. Begitulah seterusnya pekerjaan ini dilakukan secara bersama-sama, bergiliran sesuai jumlah anggota yang sepakat untuk saling membantu, satu praktek kearifan lokal mayarakat petani Nanga Jajang Kapuas Hulu.
Tradisi ini memberikan pembelajaran nilai yang sangat trategis dalam membangun harmoni sosial, dimana mereka bukan saja bisa saling membantu pekerjaan satu sama lain, tapi terbangunnya kebersamaan yang kuat dalam bekerja. Melalui tradisi Bami` Ari masyarakat petani bukan saja bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik, mudah dan cepat, tapi sesama mereka terbangun kedekatan sosial dan interaksi komunikasi yang saling terbuka satu sama lain. Melalui praktek kerja Bami` Ari komunikasi dan silaturrahim terbangun dengan sangat kuat antar petani di Nanga Jajang.
Kebersamaan penulis dalam memperhatikan, mengamati dan mengikuti mereka bekerja (Bami` Ari) pada beberapa kali kesempatan, baik saat mereka panen padi ladang maupun panen purik di kebun, memperlihatkan satu suasana komunikasi yang luar biasa hangat. Keakraban diantara mereka sangat jelas terlihat. Tawa dan canda menghiasi waktu-waktu kebersamaan dalam interaksi mereka. Sesama petani mereka bisa saling berbagi cerita dan pengalaman sambil bekerja, yang semuanya memperlihatkan satu suasana komunikasi dan hubungan sosial yang hangat dan harmoni.
Sekali lagi, pengalaman langsung penulis mengamati, memperhatikan dan mengikuti proses kerja masyarakat dalam tradidi Bami` Ari di Nanga Jajang menegaskan wujudnya satu kearifan lokal yang sangat berharga dalam memperkuat dan melestarian harmoni sosial. Dan karenanya tradisi Bami` Ari layak mendapat pengakuan sebagai satu warisan budaya bangsa yang penting. Karenanya ia mesti selau dijaga dan dilestarikan sebagai satu modal sosial memperkuat harmoni sosial di tengah masyarakat petani khususnya, dan Indonesia pada umumnya.
Pengalaman ini juga memperkuat pandangan saya bahwa harmoni sosial yang sesungguhnya memang harus lahir dari praktek sosial yang hidup dan dipraktekkan di tengah masyarakat, sebagaimana tradisi Bami` Ari pada masyarakat petani di Nanga Jajang Kapuas Hulu. Mari terus jaga keberlangsungan tradisi ini sebagai kekayaan sosial dan kearifan lokal masyarakat petani Nanga Jajang, Kapuas Hulu. Hidupkan tagar Bami` Ari untuk perkuat harmoni sosial masyarakat; “Boh Bami` Ari Boh….. abooooh” (Jajang, 26 Februari 2026).








Discussion about this post