Oleh: Prof.Dr.Ibrahim,MA
Ramadan syahrul mubarak, semakin menemukan bukti nyata betapa kehadirannya menghadirkan banyak sekali keberkahan, apa pun bentuknya. Satu di antara keberkahan dari kehadiran Ramadan adalah memberikan peluang (momentum) untuk membangun silaturahmi antarsesama dan menjadi pengobat rindu untuk bertemu dan bersua sesama dalam suasana memeriahkan Ramadan. Hal itu sangat terasa pada diri saya saat melakukan kunjungan ke daerah pedalaman Kapuas Hulu awal Ramadan ini.
Betapa tidak, pada momentum Ramadan ini saya berkesempatan berkunjung ke Desa Ulu Pengkadan, Kapuas Hulu (Rabu, 25 Februari 2026 / 7 Ramadan 1447 H). Di sana, saya berkesempatan untuk mengikuti salat Isya dan tarawih berjemaah di masjid. Setelahnya diisi dengan sepatah dua kata tausiah (wasiat/nasihat), atau lebih pasnya perbincangan melepas rindu saya dengan warga masyarakat Ulu Pengkadan. Di situ, sebagian besar dari mereka masih ada hubungan keluarga dengan saya, atau setidaknya mengenal saya sejak kecil.

Pun demikian dengan saya. Masa-masa kecil yang juga sering berkunjung ke desa ini, membuat saya merasa dekat, akrab, dan mengenal sebagian besar dari mereka, terutama generasi menengah ke atas (tua).
Singkatnya, kunjungan saya malam itu lebih terasa sebagai sebuah pertemuan nostalgia untuk kembali merajut silaturahmi dan melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu maupun berkunjung. Jikapun pernah sesekali datang berkunjung di luar Ramadan, saya tidak berkesempatan bertemu dengan banyak orang. Karena itu, kesempatan bulan Ramadan ini saat saya bisa datang berkunjung, melaksanakan salat Isya dan tarawih secara berjemaah di masjid, bahkan mendapatkan kesempatan memberikan sepatah dua kata tausiah, sungguh sebuah kesempatan yang berharga.
Dengan bungkus tausiah Ramadan, saya bisa menyapa satu per satu jemaah yang hadir. Atas nama tausiah pula saya bisa berbagi cerita, pengalaman, dan pemahaman keagamaan, serta semangat beribadah kepada para jemaah yang hadir. Terutama dalam memanfaatkan kehadiran bulan suci Ramadan, bulan yang penuh dengan keberkahan (syahrul mubarak).
Ramadan (dan tausiah) sebagai momentum memperkuat silaturahmi dan melepas rindu dengan masyarakat Ulu Pengkadan terasa bermakna dengan beberapa nasihat dan motivasi beribadah yang disampaikan kepada para jemaah malam itu, antara lain sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadis Nabi saw. Bahwa puasa yang dilakukan dengan penuh keimanan dan pengharapan pahala akan menghapus dosa-dosa yang telah lalu (Hadis Bukhari dan Muslim); pentingnya memperbanyak amaliah Ramadan untuk mendapatkan ampunan dari Allah Swt. (Bukhari dan Muslim); serta memperbaiki kualitas puasa Ramadan dan memperbanyak membaca Al-Qur’an selama bulan Ramadan yang akan membuka pintu syafaat keduanya pada hari kiamat (Hadis Ahmad).








Discussion about this post