Oleh: M. Nashir Syam, M.Pd.I
Terkadang, kita terlalu sering mengukur keberhasilan dakwah dari seberapa ramai jamaah yang hadir, seberapa megah panggung yang disiapkan, seberapa luas publikasi yang disebarkan, atau seberapa banyak orang yang menyaksikan. Padahal, ada sisi lain dari dakwah yang mungkin jarang kita perhatikan: dakwah yang tumbuh dalam kesunyian, jauh dari hiruk-pikuk publikasi, tetapi perlahan-lahan menyentuh hati dan menggerakkan kepedulian.
Pengalaman itulah yang saya rasakan tadi malam ketika berkesempatan bersilaturahmi ke Majelis Az-Zikra Ketapang.
Di sana saya bertemu dengan sosok sederhana, Abah Haji Tosin, seorang perantau asal Ciamis, Jawa Barat, yang sudah puluhan tahun menetap di Ketapang. Dari obrolan santai bersama beliau, saya mendapatkan sebuah kisah perjalanan dakwah yang menarik sekaligus menginspirasi.
Menurut penuturan Abah Haji Tosin, Majelis Az-Zikra Ketapang dirintis sejak tahun 2006, sepulang beliau bersama istri dari Tanah Suci setelah menunaikan ibadah haji. Nama Az-Zikra sendiri mengingatkan kita pada gerakan zikir yang dirintis almarhum Ustadz Muhammad Arifin Ilham di tingkat nasional.
Terinspirasi oleh semangat dakwah dan tradisi zikir tersebut, Abah Haji Tosin mulanya hanya mengajak beberapa orang kawan untuk berkumpul, berzikir, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tidak ada ambisi untuk membangun majelis besar. Tidak pula diawali dengan publikasi yang gemerlap. Hanya ada ajakan sederhana untuk menghidupkan zikir dan merawat kebersamaan dalam mengingat Allah.
Namun, dari sesuatu yang sederhana itu, jamaah perlahan bertambah. Pertemuan demi pertemuan terus berlangsung. Hingga akhirnya, kegiatan tersebut menjadi agenda rutin setiap malam Jumat. Sebuah perjalanan dakwah yang telah bertahan hampir dua dekade.
Dakwah Tidak Selalu Harus Berisik
Ada pelajaran penting yang saya tangkap dari perjalanan Majelis Az-Zikra Ketapang. Bahwa dakwah tidak selalu harus hadir dengan keramaian. Tidak selalu membutuhkan panggung megah, pengeras suara yang besar, baliho yang mencolok, atau publikasi yang luar biasa.
Dakwah juga bisa tumbuh dari ruang-ruang sederhana, dari pertemuan kecil, dari lingkaran orang-orang yang duduk bersimpuh, melantunkan zikir, membaca doa, dan saling mengingatkan tentang kehidupan akhirat.
Boleh jadi, kegiatan semacam ini tidak banyak diketahui orang. Tidak menjadi perbincangan di media sosial. Tidak pula selalu mendapatkan sorotan publik. Tetapi, siapa yang tahu bahwa dari ruang sunyi itu ada hati yang sedang diperbaiki, ada jiwa yang sedang ditenangkan, dan ada manusia yang sedang belajar kembali mengenal Tuhannya?
Bukankah esensi dakwah bukan sekadar membuat orang datang, tetapi bagaimana orang yang datang mengalami perubahan?
Bukan sekadar membuat jamaah ramai, tetapi bagaimana hati mereka semakin dekat kepada Allah.
Malam itu, atas permintaan Abah Haji Tosin, saya berkesempatan menyampaikan tausiyah tentang hakikat zikir dan sejauh mana kesiapan kita menghadapi fase akhir kehidupan, yakni kematian.
Dua tema yang sesungguhnya memiliki hubungan sangat erat. Zikir adalah upaya menghidupkan kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap tarikan kehidupan, sementara mengingat kematian adalah cara menyadarkan manusia bahwa kehidupan dunia bukanlah perjalanan yang abadi.
Jamaah tampak antusias mengikuti tausiyah. Saya pun merasa mendapatkan pengalaman berharga. Di tengah berbagai kesibukan dan dinamika kehidupan, ternyata masih ada orang-orang yang dengan penuh kesungguhan menyediakan waktu untuk duduk bersama, mengingat Allah, dan mempersiapkan bekal menuju kehidupan yang lebih panjang.
Dari Zikir Menuju Kepedulian Sosial
Namun, ada hal lain yang justru semakin membuat saya terkesan.
Ternyata, gerakan Majelis Az-Zikra Ketapang tidak berhenti pada aktivitas zikir dan penguatan spiritual semata. Dari ruang pertemuan yang sederhana itu, tumbuh pula kesadaran untuk memikirkan kemaslahatan umat.
Alhamdulillah, jamaah memiliki gerakan sosial berupa santunan bagi kaum dhuafa, penyembelihan hewan kurban, bahkan membantu memberangkatkan imam masjid untuk menunaikan ibadah umrah.
Di sinilah saya menemukan sesuatu yang sangat menarik. Zikir ternyata tidak hanya berhenti di lisan, tetapi bergerak menuju tindakan. Kesadaran spiritual tidak hanya melahirkan kesalehan individual, tetapi juga menumbuhkan kepedulian sosial.
Sebab, apa artinya seseorang tekun berzikir jika hatinya tetap tidak peka terhadap penderitaan orang lain?
Apa artinya lisan senantiasa menyebut nama Allah, jika tangannya enggan membantu sesama?
Dan apa artinya kita rajin mendekatkan diri kepada Allah, jika keberadaan kita tidak membawa manfaat bagi manusia?
Zikir yang sesungguhnya mestinya melahirkan pribadi yang semakin rendah hati, semakin peduli, dan semakin bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Dalam perspektif Islam, kesalehan memang tidak cukup berhenti pada hubungan vertikal antara manusia dengan Allah (hablum minallah), tetapi harus tercermin pula dalam hubungan horizontal antarsesama manusia (hablum minannas).
Majelis Az-Zikra Ketapang memberikan gambaran sederhana tentang bagaimana dua dimensi kesalehan itu dapat berjalan beriringan.
Istiqamah, Kekuatan yang Sering Tidak Terlihat
Hampir dua puluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk merawat sebuah majelis. Banyak kegiatan keagamaan yang semangatnya luar biasa ketika pertama kali dimulai, tetapi perlahan meredup seiring berjalannya waktu.
Karena itu, apa yang dilakukan Abah Haji Tosin bersama jamaah Majelis Az-Zikra patut diapresiasi. Bukan semata-mata karena jumlah jamaahnya, tetapi karena kemampuannya menjaga kesinambungan sebuah gerakan kebaikan.
Di sinilah letak kekuatan istiqamah.
Kita sering terpesona oleh sesuatu yang besar, tetapi terkadang lupa bahwa sesuatu yang besar sering kali bermula dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Majelis yang awalnya hanya dihadiri beberapa orang, jika dirawat dengan keikhlasan dan istiqamah, dapat tumbuh menjadi ruang pembinaan umat. Bahkan, dari lingkaran kecil itu bisa lahir gerakan sosial yang manfaatnya dirasakan oleh masyarakat luas.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sedikit.
Mungkin inilah rahasia mengapa sebuah majelis sederhana mampu bertahan sekian lama: bukan karena kemegahan acaranya, melainkan karena ada hati-hati yang terus dijaga untuk istiqamah.
Menemukan Kembali Makna Dakwah
Silaturahmi ke Majelis Az-Zikra Ketapang tadi malam memberikan sebuah refleksi bagi saya. Bahwa denyut dakwah di daerah ini sesungguhnya hidup dalam banyak bentuk dan ruang. Ada dakwah yang berlangsung di masjid-masjid besar, ada yang tumbuh melalui majelis taklim, ada pula yang bergerak dari kelompok-kelompok kecil yang mungkin tidak banyak dikenal orang.
Semuanya memiliki ruang dan kontribusi masing-masing.
Kita tidak boleh hanya mengapresiasi dakwah yang tampak besar di permukaan, tetapi melupakan dakwah sederhana yang bekerja dalam kesunyian.
Sebab, bisa jadi, dari sebuah ruang kecil yang dipenuhi lantunan zikir, lahir manusia-manusia yang lebih peduli. Dari pertemuan sederhana setiap malam Jumat, tumbuh kepedulian kepada kaum dhuafa. Dari kebersamaan mengingat Allah, muncul kesadaran untuk membahagiakan orang lain.
Akhirnya, saya ingin menyampaikan apresiasi dan rasa hormat kepada Abah Haji Tosin beserta seluruh jamaah Majelis Az-Zikra Ketapang.
Semoga majelis ini terus istiqamah, semakin berkembang, dan menjadi salah satu mata air spiritual bagi masyarakat Ketapang.
Sebab, dakwah tidak selalu harus beramai-ramai dengan publikasi yang wah. Terkadang, dakwah justru bekerja paling dalam dari ruang yang sunyi: mengetuk hati, menumbuhkan kesadaran, dan menggerakkan tangan untuk berbagi.
Itulah dakwah yang tidak hanya terdengar oleh telinga, tetapi juga terasa manfaatnya oleh kehidupan…







Discussion about this post