KETAPANG – fkub-kalbar.or.id, Menutup tahun 2025, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Ketapang menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dengan mengusung tema “Satu Tahun Menjaga Harmoni: Penguatan Moderasi Beragama dan Indeks Kerukunan”.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Badan Kesbangpol Ketapang yang diwakili oleh Sekretaris H. Matjuni. Acara dilaksanakan sehari penuh pada Jumat (12/12) bertempat di Aula Kantor Kementerian Agama Ketapang.
FGD diikuti oleh 60 peserta yang berasal dari unsur anggota FKUB Ketapang, perwakilan elemen enam agama dari empat kecamatan kota, ormas keagamaan, Forum Pembauran Kebangsaan (FPK), Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), Kementerian Agama Ketapang, serta beberapa tokoh adat. Turut hadir membersamai kegiatan tersebut perwakilan dari Polres dan Kodim Ketapang.

Dalam sambutan pengantarnya yang sekaligus penyampaian materi, Ketua FKUB Ketapang, Drs. Heronimus Tanam, M.E., berterima kasih kepada Kesbangpol dan Kementerian Agama Ketapang yang telah memfasilitasi FGD tersebut. Ia menyebut kegiatan ini merupakan refleksi akhir tahun 2025 untuk mengevaluasi program yang telah dilaksanakan dan merencanakan program yang belum terealisasi.
Heronimus Tanam, yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Ketapang, turut menyampaikan laporan capaian yang telah diraih FKUB Ketapang selama kurun waktu 2025. Dalam kesempatan itu, ia memaparkan bahwa salah satu prestasi FKUB Ketapang adalah memperoleh penghargaan literasi kerukunan dari FKUB Provinsi dan penghargaan dari Aliansi Jurnalis Ketapang (AJK).
Selain itu, FKUB Ketapang aktif mengadakan temu tokoh agama, verifikasi tempat ibadah, sosialisasi Deklarasi Istiqlal, serta berkontribusi dalam pokok-pokok pikiran melalui media literasi terkait krisis ekologis. Kegiatan terakhir yang dilaksanakan adalah kunjungan silaturahmi pada 24–26 November lalu ke Singkawang, yang sebagaimana diketahui telah ditetapkan kembali sebagai Kota Paling Toleran oleh pemerintah pusat.
“Kunjungan kami ke Singkawang sangat besar manfaatnya bagi kami, terutama mengenai kiat-kiat untuk berhasil ditetapkan sebagai kota toleran,” jelas pria yang akrab disapa Pak Tanam itu.
“Dengan sinergi semua pihak, kami yakin sebetulnya Ketapang pun bisa meraih penghargaan itu. Kita semua komponennya lengkap, tingkat kerukunannya pun bagus. Namun, memang kelemahannya ada pada kurangnya dokumentasi,” jelasnya.
Heronimus Tanam juga memaparkan tantangan yang masih dihadapi, misalnya implementasi Peraturan Bersama (SKB) 2 Menteri tentang izin pendirian rumah ibadah. Selain itu, ada program yang belum direalisasikan, yakni pembentukan pemuda lintas agama dan perempuan kerukunan yang merupakan sayap penguat FKUB.
Sementara itu, Sekretaris Kesbangpol, H. Matjuni, menjelaskan peran Kesbangpol dalam menunjang indeks kerukunan. Ia menyampaikan bahwa terwujudnya kerukunan merupakan kinerja kolektif seluruh komponen, terutama peran aktif FKUB di dalamnya.
Kepala Kemenag Ketapang dalam paparannya menjelaskan tentang penguatan regulasi terkait indeks kerukunan, kesetaraan pelayanan publik, dan pendirian rumah ibadah. Ia mengapresiasi kinerja FKUB Ketapang yang dalam kurun waktu setahun ini telah menorehkan prestasi dengan mendapatkan banyak penghargaan, baik dari provinsi maupun lembaga yang peduli terhadap harmoni sosial.
Diskusi dipandu oleh Drs. H. As’ad Afifi, M.Pd., seorang dosen STAI Al-Haudl Ketapang sekaligus pengurus FKUB Ketapang. Dalam sesi tersebut, ia memberikan kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan pendapat dan sumbang sarannya.
Pada kesempatan itu pula diluncurkan secara resmi buku Harmoni Semesta: Merawat Kebersamaan dalam Keberagaman buah karya M. Nashir Syam, seorang praktisi pendidikan dan dakwah peraih penghargaan “Best Personal Contributing Harmony 2025” dari FKUB Provinsi Kalbar.
Dalam bukunya yang setebal 144 halaman itu, penulis mengajak para pembaca untuk menjadikan keberagaman sebagai sebuah anugerah guna mencapai kehidupan yang harmoni. Keberagaman agama bukan sebagai pemecah, melainkan justru penguat dan pemersatu. Buku tersebut diberi pengantar oleh Prof. Dr. Ibrahim, M.A., Guru Besar IAIN Pontianak yang juga Ketua FKUB Provinsi Kalbar. Menurut penulisnya, setelah peluncuran resmi ini, buku bisa didapatkan di toko-toko buku, atau jika ingin harga bersahabat bisa menghubungi langsung penulis maupun Sekretariat FKUB Ketapang.
Kegiatan diakhiri dengan sesi foto bersama dan ramah tamah tepat pukul 11.00 WIB.








Discussion about this post