PONTIANAK – fkub-kalbar.or.id, Wakil Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kalimantan Barat, Pdt. Paulus Ajong, menegaskan bahwa kemajemukan merupakan realitas sosial yang tidak terbantahkan di Kalimantan Barat. Keberagaman ini, menurutnya, tidak boleh dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai modal sosial yang menguatkan jika dikelola dengan baik.
Hal tersebut disampaikan Pdt. Paulus Ajong dalam paparannya di hadapan perwakilan organisasi masyarakat (Ormas), termasuk 24 paguyuban etnis yang ada di Kalbar yang dilaksanakan oleh Subdit Binmas Polda Kalbar. Kamis, 12/2 pagi bertempat di Transera Hotel Pontianak.
“Kemajemukan di Kalbar adalah fakta sosial. Ini bukan ancaman, tetapi justru kekuatan dan modal sosial kita bersama untuk membangun daerah, asalkan dikelola dengan bijak dan benar,” ujar Pdt. Paulus Ajong.
Meski optimistis dengan modal sosial tersebut, Pdt. Paulus Ajong mengingatkan semua pihak untuk tetap waspada terhadap potensi konflik. Ia menyoroti beberapa isu krusial yang dapat mencederai kerukunan, antara lain maraknya politik identitas, persepsi saling merasa terancam antar-kelompok, serta bayang-bayang sejarah kelabu masa lalu yang belum sepenuhnya tuntas.

Selain itu, tantangan di era digital juga menjadi sorotan utama. “Hoaks dan ujaran kebencian di laman-laman platform digital sangat berbahaya. Oleh karena itu, literasi digital, baik media cetak maupun elektronik, menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah terprovokasi,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, FKUB Kalbar menekankan pentingnya peran seluruh Ormas, baik yang berbasis suku maupun agama, untuk menjadi garda terdepan dalam menciptakan, menjaga, dan memelihara kerukunan.
FKUB sendiri, menurut Pdt. Paulus Ajong, telah melakukan berbagai langkah konkret yang terus berkelanjutan (sustainable). Langkah-langkah kerukunan tersebut mencakup dialog lintas siswa, mahasiswa, pemuda, hingga dialog lintas tokoh di Kalimantan Barat.
“Kami juga terus mendorong penguatan moderasi beragama sebagai jalan tengah untuk merawat kebhinekaan,” tambah Ketua PGIW Kalbar ini
Menutup paparannya, Pdt. Paulus Ajong memberikan atensi khusus terkait momentum perayaan hari besar keagamaan yang akan datang, yakni Tahun Baru Imlek dan Ibadah Puasa (Ramadan).
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat dan 24 paguyuban etnis di Kalbar untuk bersama-sama menjaga suasana yang kondusif. Sikap saling menghormati dan toleransi diharapkan tetap menjadi prioritas demi memastikan seluruh umat beragama dapat menjalankan ibadahnya dengan tenang dan khidmat. (red)








Discussion about this post